Siang hari terasa membakar, dengan matahari yang menggantung di puncak langit tanpa ampun. Udara bergetar, hampir terlihat seperti riak di atas pasir yang panas. Pepohonan di kejauhan tampak seperti bayangan kabur, daunnya tak bergerak karena angin seakan enggan datang.

Di tengah cuaca yang menyengat itu, Lynx berlari. Langkahnya cepat dan ringan, seperti bayangan yang melesat di atas tanah berdebu. "Aku harus segera menyusul para perampok itu," batinnya.

Setelah berlari cukup jauh dan tetap tidak menemukan jejak mereka, Lynx berhenti di bawah bayangan sebuah batu besar, menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Dengan kekuatan yang dia miliki, dia mampu berlari tanpa henti selama berhari-hari, namun dia tetap perlu berhenti untuk minum dan makan.

"Tidak mungkin mereka bisa berjalan secepat ini dengan membawa tahanan, seharusnya setelah mengejar beberapa hari ini, ada tanda-tanda keberadaan mereka." batin Lynx sambil memandang sekitar. "Apakah jalur yang kuambil berbeda?"

Lynx berusaha menemukan petunjuk, namun tidak ada sedikitpun tanda-tanda rombongan perampok itu melewati tempat ini."Sebaiknya aku langsung ke perkampungan perampok itu, menghancurkan akar-akarnya sekaligus."

Saat menikmati makanan yang dikeluarkan dari cincin penyimpanan, Lynx memikirkan sesuatu hal yang agak mengganggunya, "Aku terbiasa keluar masukkan senjata ke dalam cincin penyimpanan, ini pastinya menimbulkan tanda tanya bagi yang melihatnya," gumamnya, sambil tersenyum tipis. Ia menoleh ke belakang, mengingat tatapan Bruno saat terakhir kali dia menghancurkan sarang perampok.

Tatapan itu jelas penuh tanya. Bruno bahkan tidak berusaha menyembunyikan keterkejutannya setiap kali melihat pedang Lynx tiba-tiba muncul di tangannya dan menghilang begitu saja setelah pertempuran usai. Lynx teringat bagaimana Bruno akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya dengan suara pelan, hampir berbisik, “kepala suku, apakah kau seorang penyihir?”

Lynx tertawa kecil saat mengingat wajah pucat Bruno saat itu. “Aku bukan penyihir,” jawabnya waktu itu dengan singkat, tetapi ia tahu tatapan ragu itu belum sepenuhnya hilang.

"Kalau aku terus memunculkan pedang ini di depan mereka, aku pasti akan membuat lebih banyak masalah," pikirnya saat itu. Lynx menoleh ke arah jarinya, memandang sebuah cincin yang melingkar di tangan kirinya.

Ia menghela napas panjang dan mengaktifkan cincin itu. Dari ruang dimensi di dalamnya, Lynx mulai mencari pedang yang lebih sederhana dan memiliki sarung pedang, yang tidak akan menarik perhatian. Ia menemukan satu, sebuah pedang baja polos, dengan bilah yang tidak terlalu mencolok. Gagangnya terbuat dari kayu hitam yang dipernis dengan baik, tanpa ornamen berlebihan.

Lynx mencoba memainkan beberapa gerakan dengan senjata itu, dan menyalurkan energi saktinya. “Ini akan cukup,” katanya sambil mengangguk kecil saat melihat sebuah batu besar terbelah di dekatnya.

Namun, ia membutuhkan cara untuk membawanya. Mata Lynx menyapu sekeliling didalam ruang penyimpanan, hingga ia menemukan tali yang kuat, terselip di dalam tumpukan perbekalan di dalam cincin penyimpanannya.

Dengan cekatan, ia mengikat pedang itu pada sarungnya dan mengikat tali di sekeliling punggungnya. "Dengan begini, tidak akan ada lagi pertanyaan mengenai senjataku."

Saat pedang itu sudah melekat di punggungnya, Lynx mencoba menghunus dan memasukkan pedangnya beberapa kali,"cukup mudah mengeluarkannya."

Lynx menatap jauh kedepan, "Kronar... Sudah waktunya kita membuat perhitungan. Apapun jebakan yang sudah kamu persiapkan, tidak akan berguna kali ini."

Setelah merasa cukup beristirahat dan memastikan sudah selesai semua persiapannya, Lynx melangkah keluar dari bayangan batu besar untuk melanjutkan perjalanan. Matahari masih menyengat, tetapi langkahnya mantap, dan ia tahu dengan senjata barunya, ia bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan sulit seperti sebelumnya. Namun, sebuah senyum kecil tetap menghiasi wajahnya, mengingat betapa lucunya wajah Bruno saat menduga dirinya adalah penyihir.

***

Setelah menyusun rencana dengan matang bersama Gahara, Banu berjalan menyusuri jalan rahasia yang sudah lama ia buat, jalur sempit yang tersembunyi di antara semak-semak dan pepohonan rimbun di sekitar Kampung Surya. Jalan ini sengaja ia bangun sebagai langkah antisipasi jika ia harus bergerak tanpa diketahui siapa pun.

"Gahara, apakah aku harus mempercayainya? Dia tidak terlihat sederhana, penuh tipu daya. Aku harus mencari kesempatan untuk menghabisinya bersaman dengan Leena." Banu bertekad ingin menghancurkan Lynx, dan secara bertahap dia bisa berusaha mempengaruhi para penduduk untuk mengangkatnya sebagai kepala suku Surya. "Setelah menjadi kepala suku, semua wanita cantik di suku ini akan menjadi milikku."

Banu berusaha keras memikirkan rencana untuk menghancurkan Lynx dan Gahara sekaligus. Banu tahu, dirinya tidak akan bisa hidup tenang dan selalu dibawah bayang-bayang Gahara jika dia membiarkannya tetap hidup.

"Aku harus fokus menangkap Leena terlebih dahulu dan mencari kesempatan bagus untuk menghilangkan semua musuh-musuhku."

Pikiran Banu sibuk memikirkan cara untuk menculik Leena atau seseorang yang dekat dengannya."Aku harus berhati-hati, banyak orang kuat yang selalu berada di sekitar Leena, selain itu penjagaan semakin ketat sejak Leena aku culik"

"Nanti hati-hati ya Aliah, kita akan berpisah, kamu bisa mengantarkan makanan ini ke sebelah sana." Tiba-tiba Banu mendengar suara pelan di kejauhan.

Banu menoleh dan memandang ke arah datangnya suara. Dari kejauhan, ia melihat rombongan wanita membawa bungkusan. Banu segera bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka. Terlihat, mereka berjalan saling bercanda dengan riang.

Tak lama kemudian, rombongan tersebut memisahkan diri menuju tujuan yang berbeda. Ia melihat sosok Aliah, adiknya Karim, berjalan sendirian menuju ke arahnya.

Setelah mendekat, terlihat perempuan itu memegang bungkusan berisi makanan dan tampak menuju pos penjagaan di perbatasan kampung. Sebuah senyum dingin muncul di wajah Banu. "Kesempatan yang sempurna, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Dia sangat dekat dengan Leena," pikirnya.

Aliah berjalan dengan hati gembira. Sejak kecil, dia dan penduduk lainnya selalu hidup dalam ketakutan akibat ancaman suku Monrest. Suku mereka sering berpindah-pindah untuk menghindari pasukan Monrest, namun sejak suku mereka tertangkap dan selalu diawasi, mereka tidak pernah lagi melarikan diri. Bahkan, orang-orang dari suku mereka selalu ditangkap setiap bulannya, selain menyerahkan hasil tangkapan dan obat-obatan.

Aliah merasa gembira sejak bergabung dengan suku Surya, kehidupannya terasa berubah. Dia tidak lagi merasakan ketakutan, bahkan merasa sangat senang dengan aneka masakan baru yang menggugah selera, meski ada sedikit kesedihan karena tidak bisa terlalu dekat dengan Lynx.

Dengan rajin, Aliah setiap hari bersama teman-temannya mengantarkan makanan untuk para penjaga, agar bisa melepaskan keinginannya untuk sering melihat Lynx.

Aliah melangkah pelan tanpa merasakan sedikit pun bahaya. Ia menikmati sejuknya udara sore, dia tidak menyadari, Banu mengintainya.

Dengan gerakan terlatih, Banu mengeluarkan sumpit panjang yang ujungnya telah dipasang jarum berlumur racun bius. Racun itu tidak hanya membuat korbannya pingsan, tetapi juga melumpuhkan kemampuan mereka untuk bersuara. Racun yang sama dulu ingin dia gunakan pada Leena saat di gua, namun gagal karena Leena menendang botolnya.

Ketika Aliah tiba-tiba merasakan sesuatu yang menusuk lengannya. Ia menoleh dengan kaget, tetapi tubuhnya mulai terasa lemah. Ia berusaha berteriak, namun suaranya hanya keluar sebagai bisikan yang nyaris tak terdengar. Pandangannya mulai kabur, dan dalam beberapa detik, ia jatuh ke tanah.

"Bagus, sekarang aku bisa membawanya ke tempat Gahara. Tapi aku harus memastikan tidak ada yang melihatku." Banu memandang sosok Aliah yang terjatuh ditanah dengan tumpahan makanan berasal dari bungkusan yang dia bawa. Setelah memastikan Aliah tidak sadarkan diri dan memeriksa keadaan disekitarnya, Banu bergerak cepat, mengangkat tubuh Aliah lalu membawanya ke tempat Gahara melalu jalan rahasia yang sudah dia siapkan.

"Siapa wanita ini?," tanya Gahara setelah melihat wajah Aliah."Dia berbeda dengan wanita yang kau bawa ke gua dulu,"

"Wanita ini sangat dekat dengan Leena. Kita akan menggunakannya sebagai umpan." Kata Banu sambil menyerahkan ke Gahara. "Kamu harus menjaganya baik-baik. Aku akan mendatangi dan membawa Leena ke sini."

Gahara menganggukkan kepala dan memeriksa kondisi Aliah. "Jangan lupa! Pastikan Leena datang sendirian ke sini."

"Aku mengerti," jawab Banu, lalu berbalik kembali menuju kampung Surya. "Satu langkah selesai," gumamnya sambil tersenyum licik.

